Jalan Somba Opu, yang sekarang dikenal sebagai pusat perdagangan emas terbesar di Makassar, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya kota ini. Sebelum kawasan ini dikenal sebagai tempat perbelanjaan emas, Somba Opu menyimpan cerita menarik yang dimulai dari zaman kolonial hingga menjadi destinasi utama bagi mereka yang mencari perhiasan emas berkualitas di Makassar.
Sejarah Somba Opu: Dari Kampung Baru ke Pusat Perdagangan
Sebelum menjadi pusat perdagangan emas, Jalan Somba Opu dikenal sebagai Kampung Baru atau Kampung Melayu. Nama ini merujuk pada sekelompok orang Melayu dari Melaka yang datang ke pelabuhan Makassar pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-10, Karaeng Tunipallangga (1546–1565). Mereka menetap di Somba Opu, yang saat itu merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Gowa, dan diberikan hak otonomi oleh raja.
Orang-orang Melayu ini berasal dari berbagai wilayah di Asia Tenggara seperti Pattani, Johor, Pahang, dan Minangkabau. Kehadiran mereka membawa pengaruh budaya dan perdagangan yang signifikan terhadap kawasan ini.
Somba Opu dan Emas: Dari Era Kolonial hingga Modern
Menurut sejarawan Universitas Hasanuddin, Edward Poelinggomang, sejarah emas di Makassar bermula ketika Gorontalo — penghasil emas utama — berada di bawah koloni Mandar (Sulawesi Barat). Ketika Mandar berada di bawah pengaruh Kerajaan Gowa, emas-emas dari Gorontalo dipasok ke Makassar. Bahkan dalam Perjanjian Bongaya, emas tercatat sebagai salah satu komoditas yang harus diserahkan kepada Belanda.
Di masa kolonial, emas menjadi komoditas perdagangan utama di Makassar. Ketika Belanda membuka hubungan dengan Tiongkok, emas, porselen, dan sutra menjadi komoditas yang masuk ke Makassar. Sejumlah pedagang Tiongkok kemudian membuka toko emas di sekitar Pelabuhan Makassar, yang sekarang menjadi Jalan Sulawesi.
Kebijakan 1970: Kelahiran Pusat Emas Somba Opu
Pada tahun 1970, melalui kebijakan Wali Kota HM Dg Patompo, kawasan Somba Opu resmi dijadikan pusat perdagangan emas. Saat itu, para pedagang emas yang tersebar di berbagai tempat di Makassar dikumpulkan di satu lokasi, yaitu Jalan Somba Opu. Kebijakan konsolidasi ini tidak hanya membantu pengembangan perdagangan emas tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.
La Patta (85), seorang tukang parkir yang telah lama bekerja di kawasan ini, bersaksi: "Sebelum menjadi pusat perbelanjaan emas, para pedagang di sini menjual bahan campuran. Baru pada tahun 1963, penjualan emas mulai muncul di kawasan ini." Ia juga menjelaskan bahwa sebelum resmi berganti nama menjadi Jalan Somba Opu pada tahun 1971, jalan ini dikenal dengan nama Kampung Baru atau Kampung Melayu.
Somba Opu sebagai Pusat Perdagangan dan Destinasi Wisata
Sejak saat itu, Jalan Somba Opu dikenal sebagai pusat bisnis yang tidak hanya menawarkan harga emas kompetitif, tetapi juga sebagai destinasi wisata belanja. Wisatawan yang datang ke Makassar sering mengunjungi Somba Opu untuk membeli perhiasan emas dan oleh-oleh khas Sulawesi Selatan.
Pemerintah Kota Makassar juga berencana mengembangkan kawasan ini lebih lanjut dengan menjadikannya pedestrian shopping centre, sehingga para pengunjung dapat berbelanja dengan lebih nyaman. Meskipun Jalan Somba Opu hanya merupakan sepenggal jalan, pengaruhnya sebagai pusat perdagangan emas di Makassar terus berkembang dan berkilau hingga saat ini.